Setiap kali saya tanya,
“Kalau kita mau bikin fitur ini, prosesnya gimana ya?”
Atau,
“Kalau ada bug di sini, biasanya harus mulai dari mana ngebenerinnya?”
Jawaban yang datang sering kali diawali dengan dua kata ini:
“Kan tinggal…”
Seolah-olah saya ini juga lulusan Teknik Informatika,
yang semalam baru selesai ngunyah Clean Code: A Handbook of Agile Software Craftsmanship sambil ngopi single origin dan dengerin bossanova.
Bagian dari seri “Syntax Error (in Communication)” — cerita dan bingungnya manusia dari sudut pandang orang non-dev di tengah dunia dev.
Episode 1
Saya tanya:
“Kalau kita mau nambah fitur untuk auto-reply di WhatsApp, itu kira-kira ribet nggak ya?”
Jawaban yang saya dapet:
“Kan tinggal nambah webhook-nya aja.”
Tapi dalam hati saya mikir:
Webhook itu apa? Tempat nyimpen data? Nama library? Atau… makanan tamagochi?
Saya kirim pertanyaan ringan, karena user ada kendala:
“Eh, ini user bilang kalau button-nya suka nge-lag. Itu dari sisi UI atau back-end, ya?”
Jawaban datang:
“Harusnya sih tinggal cek aja state-nya, terus re-render.”
Dan lagi-lagi: saya nggak ngerti cara ngecek state.
“Kan tinggal bikin API call.”
“Kan tinggal refactor logic-nya.”
“Kan tinggal masukin ke CI/CD pipeline terus deploy.”
Chris Martin enters the chat.
/
Setiap “kan tinggal” yang saya dengar, ada dua reaksi dalam diri saya:
- Kagum, karena mereka memang bisa bikin sesuatu yang terdengar rumit jadi terdengar simpel.
- Minder, karena saya tahu — buat saya, itu nggak tinggal.
Dan ternyata saya nggak sendiri.
Banyak teman saya di peran product, ops, content, marketing, sampai client-facing pernah mengalami hal yang sama.
Kenapa Bisa Begitu?
Saya coba cari tahu, kenapa ini sering kejadian?
Kenapa satu orang bisa anggap sesuatu gampang, sementara yang lain malah makin bingung?
Dan saya teringat dua konsep klasik dari teori komunikasi:
Field of Experience dan Frame of Reference.
Field of Experience: Perpustakaan Otak Kita
Setiap orang punya “perpustakaan pengalaman” yang beda-beda.
Apa yang pernah dia pelajari, kerjakan, alami — semuanya membentuk field of experience kita.
Kalau kamu developer dan udah 3 tahun ngulik backend,
“webhook” itu mungkin kayak nulis “terima kasih” di email —
refleks, otomatis, sederhana.
Tapi buat saya, yang belajar teknologi dengan pendekatan manusia —
“webhook” kedengerannya seperti nama karakter minor di film animasi Jepang.
Beda pengalaman = beda titik berangkat.
Frame of Reference: Kacamata yang Kita Pakai
Kalau field of experience itu perpustakaan,
frame of reference adalah kacamata yang kita pakai saat komunikasi.
Misalnya kamu bilang:
“Tinggal pakai cron job aja.”
Buatmu, itu berarti “bikin sistem jalan otomatis sesuai waktu yang diatur.”
Tapi buat saya?
“Kronjob” terdengar seperti pekerjaan magang di pabrik jam.
Kita bisa bicara dalam bahasa yang sama — Bahasa Indonesia, bahkan Bahasa Inggris — tapi tetap gagal nyambung,
karena “kata yang sama” membawa bayangan yang sangat berbeda.
Di Sini Masuknya Empati
Masalahnya bukan di niat orang yang ngomong.
Saya nggak percaya mereka mau meremehkan.
Tapi kadang, saat seseorang sudah sangat terbiasa dengan sebuah konsep,
mereka lupa rasanya saat pertama kali belajar itu.
Lupa betapa asingnya istilah-istilah itu di awal.
Lupa bahwa sesuatu yang sekarang kelihatan remeh — dulunya mungkin juga bikin mereka frustrasi.
Dan karena kita semua sibuk, tekanan tinggi, pengen cepat —
kita sering nggak sempat “mundur sebentar” dan ngecek:
Apakah orang yang diajak ngomong ini jalan di trek yang sama?
Kita anggap lawan bicara sudah tahu.
Padahal mereka sedang cari pintu masuk.
Saya sekarang lebih berani untuk bilang:
“Boleh jelasin pelan-pelan nggak? Aku pengen ngerti prosesnya,
biar bisa bantu planning dan nyambungin ke kebutuhan user.”
Karena tujuan saya bukan minta diajarin coding.
Saya cuma pengen jadi rekan kerja yang ngerti arah — bukan yang bengong di belakang sambil asal nyatet.
Karena ya, kita semua punya “hal teknikalnya” masing-masing.
Buat saya, ngejelasin strategi komunikasi ke CEO mungkin gampang.
Tapi saya juga nggak mau kalau dia bilang:
“Lah, kan tinggal bikin press release.”
Penutup: Ganti “Tinggal” Jadi “Bareng”
Mungkin sesederhana ini:
Lain kali kita mau bilang “kan tinggal…”,
coba pause sebentar dan ganti dengan:
“Biasanya sih prosesnya gini. Coba saya jelasin ulang”
Karena kadang bukan ilmunya yang susah,
tapi jembatannya yang belum dibikin.
Dan kerja di dunia teknologi — sebanyak apapun AI, automation, dan logic flow — tetap butuh yang namanya: komunikasi, kerendahan hati, dan empati.
Bukan supaya semua orang bisa ngerti segalanya,
tapi supaya semua orang bisa ngerasa dilibatkan.

