I’m Just a Comms Girl, Standing in a Tech Stack

Post pembuka sebelum seri “Syntax Error (in Communication)” dimulai minggu depan.

Saya nggak bisa ngoding.
Nggak pernah belajar coding.
Nggak kuliah teknik.
Nggak hafal syntax Python atau TypeScript. Disuruh buka terminal dan ketik npm install aja, bisa bikin saya panik duluan.

Saya datang dari dunia komunikasi — belajar soal teori media, dinamika publik, dan bagaimana pesan bisa (atau gagal) dipahami.

Kerja pertama saya? Bikin event. Setelah itu? Selama bertahun-tahun, saya merancang kampanye, menyusun narasi, dan bantu organisasi nyambung ke publik dengan cara yang lebih manusiawi.

Dan ternyata, fondasi itu yang bikin saya tetap relevan hari ini — justru di dunia teknologi.


Fast forward ke 2021.
Saya gabung ke perusahaan yang saat itu punya mimpi bikin SaaS untuk SEO.
Tim Dev-nya kecil, cuma 3 orang. Sisanya — termasuk saya — ada di tim service: bantu klien lewat SEO dan iklan digital yang akhirnya berubah ke Online Reputation Management. Dev team mulai ngerjain solusi teknologi untuk organisasi dan bisnis.

Sekarang, di 2025, kami masuk fase baru: jadi
AI-Driven Business Solutions.

Saya mulai nulis ini bukan karena saya paling ngerti AI.
Bukan juga karena saya pengen viral atau jadi “tech thought leader” (apa pun artinya sekarang).

Saya nulis karena saya hidup di tengah-tengah.
Antara developer dan stakeholder.
Antara super-mega-hyper machine learning AI dan masalah pengguna yang nyata.
Antara orang yang bisa bikin sistem, dan orang yang harus ngejelasin sistem itu ke tim operasional — jam 9 pagi, lewat slide yang diminta jam 10 malam.

Ini bukan tutorial. Bukan jurnal harian juga.
Ini catatan dari garis batas — antara manusia dan mesin, antara logika dan bahasa.

Cuma cerita dari orang yang tiap hari ngobrol sama mereka yang coding-nya bisa sambil merem, yang mikir pakai diagram arsitektur, yang ngerti cara bikin sistem dari nol. Dan saya bukan cuma duduk manis ngikutin — saya ikut mutusin.

Kadang strategi. Kadang workflow. Kadang fitur mana yang harus dikejar dulu.
Dan yang bikin saya bisa tetap relevan?
Karena saya tahu satu hal penting:

Teknologi nggak akan berguna kalau nggak bisa dijelaskan ke manusia.

Saya nulis buat kamu yang:

  • Lagi transisi dari non-tech ke dunia produk
  • Lagi magang dan bingung karena semua orang ngomong pakai singkatan
  • Udah kerja di tech, tapi masih ngerasa: “kok gue doang ya yang nggak ngerti?”
  • Atau yang udah ngerti semua, tapi pengen tahu gimana cara ngejelasinnya ke orang lain
  • Atau kamu yang kerjaannya menjembatani — walau kadang kamu sendiri nggak tahu gimana harus menjelaskan peranmu

Kalau kamu merasa kerjaanmu “nggak jelas,” atau kamu masih cari kata buat ngejelasin apa yang kamu lakukan — mungkin, kita satu frekuensi.

Sampai ketemu di tulisan berikutnya.